Tuesday, 3 April 2018
Monday, 26 March 2018
Sunday, 25 March 2018
Monday, 22 January 2018
Wednesday, 15 November 2017
Nilai-Nilai Pendidikan Akhlakul Karimah
Pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia
berilmu, beriman dan beramal. demikian pula telah dijabarkan dalam tujuan
pendidikan nasional sebagaimana telah dijelaskan dalam undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (uu sisdiknas), pasal (1), bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan Indonesia dalam perwujudannya belum terimplementasi dengan
baik, terlebih yang berkaitan dengan aspek akhlak sebagai ruh pendidikan.
Banyak fakta dapat dirujuk untuk membuktikannya, diantaranya tawuran pelajar,
pergaulan bebas, narkoba, contek massal, korupsi, traffi cking, begal,
pelecehan seksual, pembakaran hutan dan berbagai penyimpangan lainnya. Hal ini
menunjukkan bahwa permasalahan besar negeri ini adalah masalah kemerosotan
akhlakul karimah. Alhasil, pendidikan di Indonesia akhirnya hanya mampu
melahirkan para lulusan yang kaya intelektual, tapi miskin dengan akhlakul
karimah.
Berkaitan dengan permasalahan di atas Allah SWT berfi rman,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Ada beberapa prinsip akhlakul karimah yang harus ditanamkan pada peserta
didik yaitu:Pertama, menumbuhkan dalam diri setiap peserta didik mencintai
kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu hal
yang fitri. Sudah tabiat manusia untuk senang berkumpul dan bersatu. Demikian
pula halnya peserta didik senang berkumpul dengan teman, baik teman yang
memiliki akhlak mulia maupun teman yang memiliki akhlak tercela. Disini jelas
diperlukan peranan pendidikan, baik itu pendidikan secara formal di sekolah
pendidikan informal dalam keluarga dan pendidikan non formal dalam masyarakat.
Pada saat peserta didik tidak berada di sekolah, di rumah sudah tentu
peranan orang tua bertanggungjawab terhadap putra putrinya. Tanggungjawab ini
menyeluruh dimulai dari kehidupan dunia yaitu memberikan sandang, papan, pangan
yang cukup sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan orang tua. Disamping itu
pula,dalam kebutuhan rohaninya harus diberikan ilmu pengetahuan, kasih sayang,
pembinaan akhlakul karimah dengan baik. Begitu pula dengan kehidupan akhirat,
membiasakan anak taat beribadah baik ibadah shalat, di rumah maupun di masjid
dikerjakan sendiri dan terlebih baik lagi apabila dapat dikerjakan berjamaah
seluruh keluarga. Membiasakan anak perduli terhadap penderitaan orang lain,
diimplementasikan dengan memberi sedekah kepada yang membutuhkan, membantu
orang dalam kesusahan, baik karena musibah atau sebab-sebab lainnya.
Membiasakan anak mengerjakan ibadah puasa walaupun ia belum dewasa,
apabila tidak sanggup sehari penuh dikerjakan bisa sesanggupnya. Tujuannya agar
anak dapat merasakan bagaimana lapar, pada gilirannya anak bisa merasakan
laparnya orang lain ketika ia tidak memiliki sedikitpun makanan.
Didikan puasa ini mempunyai faedah yang besar bagi pendidikan rohani
peserta didik atau siapa saja yang melaksanakannya. Kedua, agar anak mengenal
sifat-sifat akhlakul karimah untuk dapat diamalkan dalam segenap aspek
kehidupannya, begitu juga mengetahuti sifat-sifat tercela untuk dijauhi dalam
pergaulan hidup. Dalam hal ini, peranan kurikulum pendidikan agama ditata
sedemikian rupa dalam mengacu kepada tujuan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Disamping itu, semua disiplin ilmu lainnya di sekolah diharapkan
berbasis tauhid dan akhlak, karena pengenalan kepada Allah dan Rasul-Nya
diperoleh antara lain dari pembelajaran tauhid dan akhlakul karimah ke dalam
semua bidang studi. Tetapi yang paling penting dalam hal ini adalah contoh,
baik yang dipraktekkan oleh orang tua dirumah, guru di sekolah dan sikap
anggota masyarakat.
Ketiga, membentuk anak didik memiliki akhlakul karimah seperti
dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW yaitu memiliki akhlak yang mulia, karena
sumbernya dari Al-Quran yang datang dari Allah SWT dan kebaikannya bersifat
mutlak. Karena kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam adalah kebaikan yang
murni, bukan polesan yang disusun sedemikian rupa untuk menguntungkan atau
memenuhi konsep dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah tiga prinsip akhlakul karimah yang harus ditanamkan kepada
peserta didik, karena peserta didik merupakan generasi penerus bangsa. Maka
perlu perhatian semua pihak baik pemerintah, orang tua, guru dan masyarakat
untuk membudayakan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata
Prof Dr H Rahmat Djanika: “Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih
mempunyai akhlak yang mulia. Maka apabila (akhlak yang baiknya) telah hilang
maka hancurlah bangsa itu.”
Monday, 13 November 2017
NET GENERATION
MADRASAH DAN NET GENERATION
Para ahli telah membagi generasi manusia ke dalam sejumlah kelompok berdasarkan tahun kelahiran. Pertama, mereka yang lahir antara 1901-1924 disebut GI Generation (General Issue Generation). Kedua, mereka yang lahir antara 1925-1946 disebut Silent Generation (Generasi Diam). Ketiga, yang lahir di antara 1946-1964 disebut Baby Boom Generation. Keempat, mereka yang lahir antara 1965-1979 disebut Generation X. Kelima, yang llahir di antara 1980-1999 disebut Millennial Generation. Dan Keenam, yang lahir di tahun 2000-an disebut Generation Z atau Net Generation. Net Generation inilah yang akan menjadi fokus Sekapur Sirih ini.
Anak-anak madrasah—saat ini—adalah anak-anak Net Generation. Mereka lahir di atas tahun 2000-an. Istilah Net Generation ini digunakan oleh Don Tapscott untuk menyebut kelompok anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan media digital. Perubahan yang signifikan yang mempengaruhi generasi ini adalah munculnya teknologi komputer, internet dan media digital lainnya. Dot Tapscotts mengatakan dalam bukunya Grow Up Digital: The Rise of the Net Generation (1997): “The net generation is exceptionally cerious, self-reliant, contrarian, smart, focused, able to adapt, high in self-esteem, and has global orientation...there has been a change in the way childeren gather, accept and retain information.”
Terjemah bebasnya: “Generasi jaringan ini adalah mereka yang secara khusus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, percaya diri, suka melawan arus/trend, cerdas, fokus, mampu beradaptasi, memiliki harga diri yang tinggi dan memiliki orientasi global. Akan selalu ada perubahan ketika mereka berkumpul, menerima dan menguasai informasi.”
Pembaca boleh percaya dan boleh tidak percaya dengan temuan Don Tapscott. Tapi saya yakin, dalam mendidik anak-anak, kita sudah merasakan munculnya ciri-ciri yang disebutkan oleh Tapscott tadi di dalam diri anak-anak kita. Itu hal yang wajar. Anak-anak kita adalah anak zaman sekarang ini. Zaman akan mempengaruhi mereka dan merekapun cepat atau lambat akan menciptakan zamannya sendiri, yang bisa jadi berubah-ubah. Dan, perubahan pasti terjadi dalam setiap generasi. Menghadapi perubahan tersebut merupakan sebuah kepastian.
(Oleh Dr. H. A. Umar, MA.)
Saturday, 11 November 2017
Kegiatan Literasi
![]() ![]() ![]() ![]() |
| Creats the excellent personality
Buku-buku menjadi warisan yang
ditinggalkan sang jenius bagi manusia, dari generasi ke generasi sebagai hadiah
untuk yang belum dilahirkan.
Yoseph Addison, The Spectator, No 166
Beberapa hari lalu, penulis kagum ketika
menonton film Angels and Demons. Sama juga takjub ketika menonton
film The Da Vinci Code, Roma karya Federico
Fellinis, Gandhi, Paris Je t’aime, Shinjuku Incident, dan Le
Grand Voyage. Film tersebut tidak hanya menawarkan tehnik
sinematografi yang memukau tapi juga menawarkan ide cerita dan pesan yang
dimampatkan dalam setiap dialog dan adegan.
Rasanya, sedikit film-film Indonesia
yang sebagus itu. Pun ketika berbincang dengan salah seorang aktivis film,
MyCinema, Tobing, membenarkannya. Salah satu permasalahannya ada pada dunia
literasi (baca: keterbacaan) kita yang lemah. Pemahaman dan apresiasi perfilman
mereka ditunjang dengan daya baca yang kuat sehingga film-filmnya berkualitas.
Ketika menelisik tentang dunia literasi,
saya menyadari produk kebudayaan sebuah bangsa memang terukur dari budaya
literasinya. Ini bukan hal yang main-main karena literasi erat kaitannya dengan
pembentukan karakter sebuah bangsa. Produk budaya kita akan berkarakter dan
mencerahkan jika didukung oleh tradisi literasi yang mapan.
Tengoklah negara-negara maju semisal
Prancis getol mengadakan perlehatan literasi seperti acara Lire
en Fète (pesta membaca) dan Le Primtemp de Poetes (musim
semi para penyair) atau sejumlah negara Eropa yang rajin mengampanyekan World
Book Day (hari buku sedunia). Kegiatan itu tentunya tidak sekedar
seremonial belaka, melainkan proses penularan rasa cinta terhadap membaca.
Negara maju pun menaruh perhatian pada dunia literasi. Tidak hanya itu, dari
buku mereka membuat inovasi dengan mengangkatnya ke layar putih yang dikenal
dengan sebutan ekranisasi. Pun mengubahnya dalam bentuk audio yang dikenal
dengan audio book dan sekarang diubah dalam bentuk elektronik
atau e-book.
Dari negara itulah muncul pengarang
kelas dunia yang menelurkan karya megah semisal Les Miressables-nya
Victor Hugo, Candide-nya Voltaire atau Dessert-nya
Jean-Marie Gustave Le Clézio, pemenang nobel sastra 2008. Tentu penulis sekelas
mereka tidak lahir dari kekosongan literasi, melainkan dari khazanah literatur
bermutu. Sehingga dari rahim literasi ini munculah wacana-wacana yang
mengguncang dunia.
Kita memang belum semegah itu. Negara
kita simpang siur antara tontonan dan tulisan. Masyarakat kita lebih terpukau
dengan acara reality show yang mengeksploitasi penderitaan dan
kesusahan orang ketimbang pada buku. Lihatlah keluarga Indonesia, yang tak
seharipun melewatkan nonton TV dari pada membaca. Mengutip Kurniasih, Anggota
Forum Studi Kebudayaan ITB, mengemukakan kondisi ini diperparah gejala umum masyarakat
Indonesia yang melewati tahap praliterasi ke posliterasi. Literasi adalah kunci
yang amat penting dalam kemajuan keilmuan. Tahapan posliterasi—yang ditandai
dengan kemunculan teknologi komunikasi visual seperti internet dan layar
kaca—memotong perkembangan literasi yang seharusnya sudah terpupuk terlebih
dahulu.
Literasi dan Karakter Bangsa
Namun sesungguhnya, kita kaya akan
karya-karya literasi. Tengoklah karya-karya klasik seperti Serat
Centhini, Serat Gatoloco, Wawacan Syeh Abdul Qadir
Jaelani, Wawacan Panji Wulung, Martabat Tujuh, Syams
al Maarif, Buku Kitab Siksa Kandang Karesian, Swaka
Dharma, Kitab-kitab Pengobatan dan sederet karya-karya
klasik lainnya. Begitu pula pada generasi selanjutnya, sejumlah karya-karya
Hamka, Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, Tan Malaka, Soekarno, Bung Hatta, Sutan
Takdir Alisyahbana, Achadiat K, Muchtar Lubis, Putu Wijaya dan sejumlah penulis
kontemporer berkontribusi atas tegaknya dunia literasi kita.
Dari karya-karya itu, sebenarnya banyak
hal yang bisa dipelajari. Seperti pada Kitab Siksa Kandang Karesian dan Swaka
Dharma yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Sunda pada jaman
Pajajaran. Mengutip pernyataan Tedi Permadi (Pikiran Rakyat, 3/8/2008)
kedua teks itu bercerita tentang konsep pemerintahan Sunda, tatanan ekonomi,
tatanan sosial, hukum, politik dan lain-lain.
Selain itu, ajaran tasawuf juga
termuat pada naskah Martabat Tujuh, Syams Al Maarif yang
mengungkapkan ajaran ketauhidan dan ajaran martabat, yang menjelaskan wujud
yang ada sebagai pancaran dari yang satu. (Mu’jizah, 2005) Lebih menarik
lagi, ajaran ini dikritisi oleh Prawirataruna yang menulis Serat
Gatholoc [versi Dahara]. Teks ini mencoba mengkritisi masyarakat Jawa
yang latah terhadap ajaran asing (Islam dan Kristen). Dalam serat ini,
diungkapkan bahwa hendaknya orang Jawa tidak meninggalkan dan melupakan
leluhurnya. (Jacob Soemardjo; 2002)
Petualangan literasi kita tidak sampai
di situ, banyak karya para penulis kita yang mencoba memotret perjuangan menuju
kemerdekaan seperti pada novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Juga karya Filsafat
seperti Madilog dan Aksi Massa karya Tan
Malaka. Dilanjutkan dengan karya-karya yang mengkritisi budaya patriarkal
seperti pada karya NH Dini, Oka Rusmini, dan Abidah El Khalieqy. Juga dengan
karya-karya lain yang mencoba memotret situasi bangsa dari berbagai sisi, dari
sisi yang paling gemerlap sampai sisi yang paling suram.
Karya literasi merupakan salah satu alat
yang memotret karakter bangsa Indonesia lebih dekat. Dari mayarakat petani,
pelaut, pedagang, peladang semua termuat di dalamnya. Ia juga menawarkan
refleksi atas kebobrokan yang selama ini diidap bangsa ini. Tentunya ini sumbangan
besar atas terbentuknya masyarakat Indonesia yang lebih baik. Kita mempelajari
rangkaian jejak-jejak masa lalu leluhur dan mempelajari kesalahan masa lampau
serta membuat pembaharuan di masa depan. Ini sebuah kekayaan intelektual yang
tak ternilai harganya.
Menakar Budaya Literasi Kita
Penulis tertarik dengan pernyataan
Elizabeth Inadiak, seorang penerjemah Prancis yang mengatakan bahwa Serat
Centhini memiliki muatan nilai kemanusiaan yang dahsyat, nilai
perdamaian, dan spirtual. Nilai-nilai yang sama diungkap juga oleh Victor Hugo.
Pernyataan ini membuat saya merasa gelisah. Apa mungkin selama ini kita abai
dengan teks-teks yang sebenarnya menyimpan khazanah keilmuan yang begitu elok?
Perasaan yang sama ketika beberapa tahun
lalu, penulis membaca karya seorang sarjana Jepang, Mikihiro Moriyama yang
bersusah payah untuk tinggal di daerah Jawa Barat hanya demi meneliti sastra
Sunda jaman kolonial. Begitu pula dengan Nancy Florida, dan banyak peneliti
asing yang asyik masyuk melakukan riset atas teks-teks kuno di Indonesia
penulis merasa malu karena mereka lebih tertarik untuk mengenal tradisi
Indonesia dibandingkan warganya sendiri.
Ini semua menandakan bahwa negara kita
ini memiliki tradisi literasi yang cukup kuat. Meskipun, kesadaran ini
tidak cukup baik dipahami oleh masyarakat, terlebih oleh pihak yang
berkewajiban melestariakannya. Penulis merasa miris ketika naskah kuno kita
hilang. Kabar terbaru mengatakan naskah-naskah di museum Radya Pustaka hilang.
Bahkan menurut sebuah reportase, tahun 2002, 2 truk naskah yang berasal dari
Madura diborong Malaysia dan Brunei. Fakta teranyar, tahun 2008, 500 naskah
kuno dan benda pusaka dari Cirebon terancam dijual kepada Malaysia. (Pikiran
Rakyat, 28/8/2008)
Setelah kekayaan alam seperti minyak
bumi dan emas digondol ke luar negeri, apakah kita masih rela naskah-naskah
diambil juga?
Dari uraian di atas penulis berpendapat
bahwa bangsa kita digdaya dalam dunia literasi, namun sedikit saja yang
menyadari dan mau berupaya melakukan perbaikan. Mungkin kita perlu meniru aksi
penyelamatan naskah kuno yang dilakukan Yayasan Sastra Surakarta terhadap 6.000
naskah kuno yang bertuliskan huruf Jawa (Kompas, 27 Mei 2009). Tidak
hanya penyelamatan, tentu kita juga perlu memelihara demi keberlangsungan dunia
literasi di Indonesia. Semoga. (sumber Neneng Nurjanah [Penikmat seni dan kebudayaan, bergiat di PSIK
Indonesia] psikindonesia.org/menakar-kedigdayaan-budaya-literasi-kita/
|
![]() |
| Kepala Sedang Memberika Sambutan |
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
How Your Personality Style Affects Your Ability to Lead Introduction Our habits, behaviors, and personalities all make us distinct fr...
-
DEMOCRATIC LEADERSHIP STYLE Table of Content 1. Definition 2. Characteristic 3. Key Point 4. ...
-
Daftar Peserta Lulus Tes Potensi Akademik PPDB Kelas Bina Potensi MTs. Negeri 1 Tangerang Tahun Pelajaran 2019/2020
























