Tuesday, 29 October 2019

Kegiatan Adiwiyata MTsN 1 Tangerang Tahun 2019

Penanaman sikap peduli lingkungan merupakan upaya yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan maupun kebijakan untuk menumbuh kembangkan kesadaran siswa terhadap lingkungan. Salah satu wujud menjadikan manusia berkarakter yaitu memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta sebagai abdullah sekaligus khalifah, manusia dituntut untuk menjaga, melestarikan serta mencegah kerusakan-kerusakan pada lingkungan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanaman sikap peduli lingkungan pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang.. Hasil kegiatan yang dilakukan oleh penulis, bahwa penanaman sikap peduli lingkungan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang bertujuan agar memiliki sikap peduli lingkungan, baik di Madrasah maupun di masyarakat. Dalam penanaman sikap peduli lingkungan madrasah memiliki tiga model yaitu : 1) terintegrasi dalam mata pelajaran yang meliputi mata pelajaran Al-Quran hadits, akidah-akhlak dan biologi. 2) terintegrasi melalui budaya Madrasah meliputi : kerja bakti, piket kelas, keteladanan yang dilakukan oleh kepala Madrasah dan guru berserta staff dan karyawan, pengkondisian guna mendukung pelaksanaan pendidikan karakter peduli lingkungan. 3) terintegrasi melalui kegiatan ekstrakurikuler meliputi : pramuka, PMR, rohis dan Pencak Silat meliputi : aksi pungut sampah, jum’at bersih, bakti sosial penanaman pohon, gowes to Madrasah, bersih sungai, tamanisasi dan daur ulang barang-barang bekas. Dalam hasil kegiatan ini bahwa dapat disimpulkan penanaman sikap peduli lingkungan pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Tangerang sudah dilaksanakan secara baik.





Wednesday, 27 March 2019

PPDB PROGRAM REGULER

HASIL SELEKSI PPDB PROGRAM REGULER
MTsN 1 TANGERANG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020

















Tuesday, 19 March 2019

PPDB Kelas Bina Potensi

Daftar Peserta Lulus Tes Potensi Akademik 
PPDB Kelas Bina Potensi
MTs. Negeri 1 Tangerang
Tahun Pelajaran 2019/2020






Sunday, 8 April 2018

MEMBANGUN CITRA MADRASAH


MEMBANGUN CITRA MADRASAH


Oleh : DR. Bahruddin, M.Si
Ketua Komite MTs. Negeri 1 Tangerang

           
            Ketika sebuah lembaga pendidikan berdiri, tentu “citra” (image) akan dibangun pula. Para pengelola Madrasah akan menerbitkan brosur, memasang spanduk, menyelenggarakan acara promosi. Semua itu tidak lain ditujukan untuk membangun citra. Dengan berbagai usaha dan cara, keberadaan sekolah akan diperkenalkan kepada masyarakat dengan kesan sebaik mungkin. Harapannya, usaha mempromosikan Madrasah itu akan mendapat respons positif dari masyarakat.

            Jika respon itu memang datang, maka akan banyaklah siswa yang berminat masuk pada setiap tahun ajaran baru. Bila memang demikian yang terjadi, sebenarnya pekerjaan yang lebih berat telah menunggu. Pekerjaan itu adalah memelihara dan mempertahankan citra Madrasah.membangun memang sulit, tetapi memelihara dan merawat bangunan jauh lebih sulit. Ini sama saja dengan sulitnya membangun kepercayaan masyarakat di masa-masa awal. Maka, upaya yang lebih keras harus dilakukan untuk mempertahankan kepercayaan tersebut.

            Langkah efektif untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap Madrasah kita adalah dengan membuktikan bahwa Madrasah kita betul-betul berkualitas. Kualitas ini biasanya diukur dari kualitas lulusannya. Apakah siswa kita memiliki aneka kelebihan dibanding siswa dari Madrasah lain? Ataukah sama saja? Atau malah lebih buruh? Ini yang penting kelebihan kualitas siswa itu dapat diukur bukan hanya dari kecerdasan akademiknya, melainkan juga dari rasa percaya diri, keuletan, keberanian, dan kemandirian siswa. Dari karakter-karakter unggul itulah prestasi tinggi kita harapkan hadiri.

            Salah satu kiat jitu untuk membangun karakter unggul adalah dengan menekankan kepada semua guru, agar mendidik siswa berdasarkan cinta, kasih, dan sayang. Jika semua guru telah mampu menunjukkan cintanya kepada siswa, tentu kepercayaan para orang tua terhadap guru dan Madrasah akan semakin bertambah. Sebagaimana telah disinggung, mendidik berdasarkan cinta akan lebih memudahkan tercapainya prestasi demi prestasi.

Di dalam pembelajaran, seorang guru idealnya mampu menciptakan suasana pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa aktif belajar untuk mendapatkan pengetahuan (knowledge), menyerap dan memantulkan nilai-nilai tertentu (value), dan terampil melakukan ketrampilan tertentu (skill). Pertanyaannya adalah suasana pembelajaran seperti apakah itu?
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, siswa akan dengan mudah untuk mengikuti pembelajaran kalau pembelajaran berada dalam suasana yang menyenangkan. Dalam suasana yang menyenangkan siswa akan bersemangat dan mudah menerima berbagai kebutuhan belajar. Dalam suasana yang menyenangkan pula siswa akan mampu mengikuti dan menangkap materi pelajaran yang sulit menjadi mudah. Singkatnya suasana yang menyenangkan merupakan katalisator yang bisa mengefektifkan pembelajaran.
Untuk bisa menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, setidak-tidaknya ada 6 (enam) yang bisa dilakukan oleh guru.

Pertama, ciptakan suasana ceria sejak awal membuka pelajaran. Suasana yang ceria mendorong siswa untuk berani dan kreatif melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran, seperti bertanya, menjawab pertanyaan, mendemontrasikan ketrampilan, dan sebagainya. Ketika Anda memasuki ruang kelas, usahakan agar wajah Anda tersenyum ramah dan selalu segar betapapun Anda sedang menghadapi masalah. Setelah Anda mengucapkan salam, mulailah menyapa siswa dengan menanyakan kabarnya atau secara spesifik menanyakan kesehatannya, dan sebagainya. Jangan sekali-kali menunjukkan wajah serius apalagi cemberut karena wajah yang demikian akan cepat sekali menyebar kepada siswa dan menciptakan suasana kelas menjadi tegang. Jangan sekali-kali pula Anda marah-marah di awal pembelajaran karena akan menghentikan psikologis siswa untuk belajar. Ingat pesan iklan AXE, pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.

Kedua , di tengah-tengah pembelajaran, ciptakan humor-humor ringan yang menjadikan seluruhnya tertawa. Kalau siswa bisa tertawa itu berarti Anda telah membantu menghilangkan sekat-sekat psikolgosi yang bisa menghambat pembelajaran, seperti malu, takut, tertekan, dan semacamnya. Secara fisik tertawa juga akan mengendorkan otot-otot penting yang berhubungan dengan sel-sel otak. Tertawa bisa menjadikan otak kita segar dan sehat. Namun demikian, sebaiknya humor tidak dilakukan secara kebablasan. Upayakan agar humor-humor yang ciptakan berkaitan dengan materi yang sedang dipalajari, tetapi jika pun tidak, Anda bisa melakukan rasionalisasi bagaimana agar humor tersebut berkaitan. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau mulai sekarang Anda mengoleksi humor-humor ringan, baik melalui membaca buku atau mengoleksinya dari para humoris. Kalaupun Anda tidak memiliki cerita-cerita humor, Anda bisa memintanya dari siswa. Saya yakin siswa memiliki segudang cerita-cerita lucu.

Ketiga , gunakan metode yang bervariasi. Pada umumnya guru sangat senang dengan menggunakan metode ceramah, karena metode ini memang sangat mudah dilakukan. Tetapi metode ini jika dilakukan terus-menerus tidak disukai siswa, apalagi jika dilakukan pada jam-jam terakhir. Bayangkan, betapa lelahnya siswa kalau setiap hari mendengarkan ceramah guru dari jam pertama masuk (biasanya berkisar pukul 07.00) sampai guru yang mengajar di jam terakhir (berkisar pk. 13.00). Bete kan??? Olah karena itu kalau mengajar upayakan agar tidak selalu berceramah. Metode ceramah tetap penting untuk menjelaskan materi pelajaran, apalagi cerita-cerita humor memang hanya bisa dilakukan dengan ceramah, tetapi sesekali cobalah dengan metode lain, seperti diskusi, proyek, demontrasi, jigsaw, dan sebagainya. Metode pembelaharan yang bervariasi sesungguhnya tidak hanya menjadikan siswa senang, tetapi kita pun sebagai guru juga akan menikmati mengajar. Kalau tidak percaya, coba saja!!!

Keempat , jangan hanya mengajarkan apa, tetapi juga ajarkan bagaimana atau dengan kata lain jangan hanya teach to know tetapi jga harus teach to learn. Kalau Anda mengajar Matematika Anda jangan hanya mengajarkan materi geometeri atau aljabar, tetapi ajarkan pula bagaimana sih cara mudah untuk berhitung cepat dan akurat. Kalau Anda mengajarkan majas dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Anda juga harus mengajarkan trik-trik menghafal majas secara mudah dan menyenangkan.

Menurut saya, sebetulnya tidak ada siswa yang tidak pandai apalagi bodoh, yang ada adalah siswa yang tidak mengerti bagaimana cara belajar yang tepat. Akibatnya betapapun siswa belajar siang malam, siswa mendapat hasil yang kurang memuaskan. Sekarang, saatnya siswa dilatih tidak hanya belajar keras atau belajar giat, tetapi belajar cerdas. Nah, belajar cerdas akan bisa diwujudkan kalau siswa diajarkan bagaimana cara mempelajari materi pelajaran secara tepat (teach to learn).

Kelima , dorong agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Upayakan agar kelas tidak hanya dikuasai oleh Anda tetapi menjadi milik bersama. Jika hanya Anda yang aktif, yakinlah Anda akan kelelahan. Bayangkan seperti apa lelahnya kalau Anda berceramah dari awal sampai akhir kira-kira 90 menit. Kalau dalam sehari Anda punya jadwal di 4 kelas, maka dalam sehari akan dituntut bercemarah selama 360 menit atau 6 jam. Lelah bukan? Oleh karena itu untuk menghindari kelelahan fisik, Anda bisa membagikan pekerjaan kepada siswa. Caranya adalah dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran. Ketika Anda memahami teks bacaan, ajaklah siswa untuk terlibat memahami. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menafsirkan bacaan tersebut. Ketika Anda menjelaskan suatu konsep ajaklah siswa untuk menjelaskan. Berikan kesempatan kepada siswa untuk ikut menjelaskan konsep yang dimaksud.
Memang, diperlukan sedikit waktu dan kesabaran, karena seringkali yang dilakukan siswa tidak langsung seratus persen benar. Tetapi bukankah ketika Anda menjelaskan sebuah konsep juga tidak secara otomatis siswa mampu menangkapnya seratus persen sama?

           Yang perlu diingat adalah jangan sekali-kali memberikan cap salah mutlak terhadap apa yang sudah diupayakan siswa walaupun kenyataannya demikian, karena akan mematahkan semangat mereka untuk terlibat. Demikian juga jangan memberikan cap yang tidak menguntungkan kepada siswa, seperti “kamu bodoh”, “kamu payah”, “kamu sulit untuk diajari” dan sebagainya.

Ketika Anda melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan disertai sikap sabar dan selalu memotivasi, Anda sebetulnya sedang menghargai diri siswa dan sedang mengeksplorasi potensi siswa. Sebaliknya ketika Anda tidak melibatkan siswa sama saja Anda sedang menutup pintu-pintu motivasi dan pintu-pintu potensi siswa yang sebetulnya bisa diaktualisasikan. Inilah yang sebetulnya mahal dalam pendidikan kita.

Keenam , akhir setiap sesi pembelajaran dengan kalimat-kalimat yang memotivasi. Saya pernah mengikuti suatu diskusi komite. Pada saat mengemukakan pendapat, seorang anggota komite, sebut saja namanya Pak Joko, tiba-tiba mengakhiri pendapatnya dengan kalimat-kalimat yang sangat memotivasi. Tuhan pasti akan memberikan makanan kepada setiap burung, tetapi Tuhan tidak akan melemparkan makanan itu ke sarangnya. Kalimat itu sangat berkesan, karena diungkapkan di akhir pembicaraannya.
Nah, pada saat mengajar tidak ada salahnya jika diakhiri dengan kalimat-kalimat yang memotivasi. Anda bisa membuat sendiri rumusan kalimat-kalimat motivasi tersebut atau bisa juga mengoleksinya dari buku-buku motivasi. Kalimat-kalimat motivasi ini penting untuk merawat atau memelihara semangat belajar siswa, bahkan juga merawat semangat kita untuk mengajar. Berikut ini bisa saya kutipkan beberapa kalimat-kalimat yang bisa memotivasi.

Ketekunan ibarat tetetasan air di atas batu besar. Tetesan air yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya akan bisa memecahkan batu yang besar.

·         Empat kali dua dan dua kali empat hasilnya akan sama, yaitu sama-sama delapan. Tetapi dalam proses belajar dua kalimat empat lebih bagus dari empat kali dua.
·         Sesuatu yang tampaknya mustahil, pada awalnya sulit untuk dilakukan, tetapi kalau kita mencoba dan terus mencoba, maka yang mustahil itu akan menjadi mudah dan bisa dilakukan.
·         Dalam belajar, salah itu biasa bagi pelajar. Yang salah adalah siswa yang tidak mau mencoba dan takut salah.


Monday, 22 January 2018

Sertijab

Serah terima Jabatan Kepala MTsN 4
dari
Drs. H. MUKSIL, M.Pd.
Kepada
Drs. H. NURUL YAKIN, MA
Serah terima Jabatan Kepala MTsN 1
dari
Drs. H. NURUL YAKIN, MA
Kepada
TRISNO FERDIYANSYAH, M.Pd.

Wednesday, 15 November 2017

Nilai-Nilai Pendidikan Akhlakul Karimah

Pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia berilmu, beriman dan beramal. demikian pula telah dijabarkan dalam tujuan pendidikan nasional sebagaimana telah dijelaskan dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (uu sisdiknas), pasal (1), bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan Indonesia dalam perwujudannya belum terimplementasi dengan baik, terlebih yang berkaitan dengan aspek akhlak sebagai ruh pendidikan. Banyak fakta dapat dirujuk untuk membuktikannya, diantaranya tawuran pelajar, pergaulan bebas, narkoba, contek massal, korupsi, traffi cking, begal, pelecehan seksual, pembakaran hutan dan berbagai penyimpangan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan besar negeri ini adalah masalah kemerosotan akhlakul karimah. Alhasil, pendidikan di Indonesia akhirnya hanya mampu melahirkan para lulusan yang kaya intelektual, tapi miskin dengan akhlakul karimah.
Berkaitan dengan permasalahan di atas Allah SWT berfi rman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Ada beberapa prinsip akhlakul karimah yang harus ditanamkan pada peserta didik yaitu:Pertama, menumbuhkan dalam diri setiap peserta didik mencintai kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu hal yang fitri. Sudah tabiat manusia untuk senang berkumpul dan bersatu. Demikian pula halnya peserta didik senang berkumpul dengan teman, baik teman yang memiliki akhlak mulia maupun teman yang memiliki akhlak tercela. Disini jelas diperlukan peranan pendidikan, baik itu pendidikan secara formal di sekolah pendidikan informal dalam keluarga dan pendidikan non formal dalam masyarakat.
Pada saat peserta didik tidak berada di sekolah, di rumah sudah tentu peranan orang tua bertanggungjawab terhadap putra putrinya. Tanggungjawab ini menyeluruh dimulai dari kehidupan dunia yaitu memberikan sandang, papan, pangan yang cukup sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan orang tua. Disamping itu pula,dalam kebutuhan rohaninya harus diberikan ilmu pengetahuan, kasih sayang, pembinaan akhlakul karimah dengan baik. Begitu pula dengan kehidupan akhirat, membiasakan anak taat beribadah baik ibadah shalat, di rumah maupun di masjid dikerjakan sendiri dan terlebih baik lagi apabila dapat dikerjakan berjamaah seluruh keluarga. Membiasakan anak perduli terhadap penderitaan orang lain, diimplementasikan dengan memberi sedekah kepada yang membutuhkan, membantu orang dalam kesusahan, baik karena musibah atau sebab-sebab lainnya.
Membiasakan anak mengerjakan ibadah puasa walaupun ia belum dewasa, apabila tidak sanggup sehari penuh dikerjakan bisa sesanggupnya. Tujuannya agar anak dapat merasakan bagaimana lapar, pada gilirannya anak bisa merasakan laparnya orang lain ketika ia tidak memiliki sedikitpun makanan.
Didikan puasa ini mempunyai faedah yang besar bagi pendidikan rohani peserta didik atau siapa saja yang melaksanakannya. Kedua, agar anak mengenal sifat-sifat akhlakul karimah untuk dapat diamalkan dalam segenap aspek kehidupannya, begitu juga mengetahuti sifat-sifat tercela untuk dijauhi dalam pergaulan hidup. Dalam hal ini, peranan kurikulum pendidikan agama ditata sedemikian rupa dalam mengacu kepada tujuan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Disamping itu, semua disiplin ilmu lainnya di sekolah diharapkan berbasis tauhid dan akhlak, karena pengenalan kepada Allah dan Rasul-Nya diperoleh antara lain dari pembelajaran tauhid dan akhlakul karimah ke dalam semua bidang studi. Tetapi yang paling penting dalam hal ini adalah contoh, baik yang dipraktekkan oleh orang tua dirumah, guru di sekolah dan sikap anggota masyarakat.
Ketiga, membentuk anak didik memiliki akhlakul karimah seperti dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW yaitu memiliki akhlak yang mulia, karena sumbernya dari Al-Quran yang datang dari Allah SWT dan kebaikannya bersifat mutlak. Karena kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam adalah kebaikan yang murni, bukan polesan yang disusun sedemikian rupa untuk menguntungkan atau memenuhi konsep dalam kehidupan sehari-hari.
Demikianlah tiga prinsip akhlakul karimah yang harus ditanamkan kepada peserta didik, karena peserta didik merupakan generasi penerus bangsa. Maka perlu perhatian semua pihak baik pemerintah, orang tua, guru dan masyarakat untuk membudayakan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata Prof Dr H Rahmat Djanika: “Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak yang mulia. Maka apabila (akhlak yang baiknya) telah hilang maka hancurlah bangsa itu.”

Monday, 13 November 2017

NET GENERATION

MADRASAH DAN NET GENERATION
Para ahli telah membagi generasi manusia ke dalam sejumlah kelompok berdasarkan tahun kelahiran. Pertama, mereka yang lahir antara 1901-1924 disebut GI Generation (General Issue Generation). Kedua, mereka yang lahir antara 1925-1946 disebut  Silent Generation (Generasi Diam). Ketiga, yang lahir di antara 1946-1964 disebut Baby Boom Generation. Keempat,  mereka yang lahir antara 1965-1979 disebut Generation X.  Kelima, yang llahir di antara 1980-1999 disebut Millennial Generation. Dan Keenam, yang lahir di tahun 2000-an disebut Generation Z atau Net Generation. Net Generation inilah yang akan menjadi fokus Sekapur Sirih ini.
Anak-anak madrasah—saat ini—adalah anak-anak Net Generation. Mereka lahir di atas tahun 2000-an. Istilah Net Generation ini digunakan oleh Don Tapscott untuk menyebut kelompok anak yang lahir dan dibesarkan di lingkungan media digital. Perubahan yang signifikan yang mempengaruhi generasi ini adalah munculnya teknologi komputer, internet  dan media digital lainnya. Dot Tapscotts mengatakan dalam bukunya Grow Up Digital: The Rise of the Net Generation (1997): “The net generation is exceptionally cerious, self-reliant, contrarian, smart, focused, able to adapt, high in self-esteem, and has global orientation...there has been a change in the way childeren gather, accept and retain information.”
Terjemah bebasnya: “Generasi jaringan ini adalah mereka yang secara khusus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, percaya diri, suka melawan arus/trend, cerdas, fokus, mampu beradaptasi, memiliki harga diri yang tinggi dan memiliki orientasi global. Akan selalu ada perubahan ketika mereka berkumpul, menerima dan menguasai informasi.”
Pembaca boleh percaya dan boleh tidak percaya dengan temuan Don Tapscott. Tapi saya yakin, dalam mendidik anak-anak, kita sudah merasakan munculnya ciri-ciri yang disebutkan oleh Tapscott tadi di dalam diri anak-anak kita. Itu hal yang wajar. Anak-anak kita adalah anak zaman sekarang ini. Zaman akan mempengaruhi mereka dan merekapun cepat atau lambat akan menciptakan zamannya sendiri, yang bisa jadi berubah-ubah. Dan, perubahan pasti terjadi dalam setiap generasi. Menghadapi perubahan tersebut merupakan sebuah kepastian.
(Oleh Dr. H. A. Umar, MA.)

Saturday, 11 November 2017

Kegiatan Literasi

Creats the excellent personality




Menakar Kedigdayaan Budaya Literasi Kita

Buku-buku menjadi warisan yang ditinggalkan sang jenius bagi manusia, dari generasi ke generasi sebagai hadiah untuk yang belum dilahirkan. 

Yoseph Addison, The Spectator, No 166
Beberapa hari lalu, penulis kagum ketika menonton film Angels and Demons. Sama juga takjub ketika menonton film The Da Vinci Code, Roma karya Federico FellinisGandhi, Paris Je t’aime, Shinjuku Incident, dan Le Grand Voyage. Film tersebut tidak hanya menawarkan tehnik sinematografi yang memukau tapi juga menawarkan ide cerita dan pesan yang dimampatkan dalam setiap dialog dan adegan.
Rasanya, sedikit film-film Indonesia yang sebagus itu. Pun ketika berbincang dengan salah seorang aktivis film, MyCinema, Tobing, membenarkannya. Salah satu permasalahannya ada pada dunia literasi (baca: keterbacaan) kita yang lemah. Pemahaman dan apresiasi perfilman mereka ditunjang dengan daya baca yang kuat sehingga film-filmnya berkualitas.
Ketika menelisik tentang dunia literasi, saya menyadari produk kebudayaan sebuah bangsa memang terukur dari budaya literasinya. Ini bukan hal yang main-main karena literasi erat kaitannya dengan pembentukan karakter sebuah bangsa. Produk budaya kita akan berkarakter dan mencerahkan jika didukung oleh tradisi literasi yang mapan.
Tengoklah negara-negara maju semisal Prancis getol mengadakan perlehatan literasi  seperti acara Lire en Fète (pesta membaca) dan Le Primtemp de Poetes (musim semi para penyair) atau sejumlah negara Eropa yang rajin mengampanyekan World Book Day (hari buku sedunia). Kegiatan itu tentunya tidak sekedar seremonial belaka, melainkan proses penularan rasa cinta terhadap membaca. Negara maju pun menaruh perhatian pada dunia literasi. Tidak hanya itu, dari buku mereka membuat inovasi dengan mengangkatnya ke layar putih yang dikenal dengan sebutan ekranisasi. Pun mengubahnya dalam bentuk audio yang dikenal dengan audio book dan sekarang diubah dalam bentuk elektronik atau e-book.
Dari negara itulah muncul pengarang kelas dunia yang menelurkan karya megah semisal Les Miressables-nya Victor Hugo, Candide-nya Voltaire atau Dessert-nya Jean-Marie Gustave Le Clézio, pemenang nobel sastra 2008. Tentu penulis sekelas mereka tidak lahir dari kekosongan literasi, melainkan dari khazanah literatur bermutu. Sehingga dari rahim literasi ini munculah wacana-wacana yang mengguncang dunia.
Kita memang belum semegah itu. Negara kita simpang siur antara tontonan dan tulisan. Masyarakat kita lebih terpukau dengan acara reality show yang mengeksploitasi penderitaan dan kesusahan orang ketimbang pada buku. Lihatlah keluarga Indonesia, yang tak seharipun melewatkan nonton TV dari pada membaca. Mengutip Kurniasih, Anggota Forum Studi Kebudayaan ITB, mengemukakan kondisi ini diperparah gejala umum masyarakat Indonesia yang melewati tahap praliterasi ke posliterasi. Literasi adalah kunci yang amat penting dalam kemajuan keilmuan. Tahapan posliterasi—yang ditandai dengan kemunculan teknologi komunikasi visual seperti internet dan layar kaca—memotong perkembangan literasi yang seharusnya sudah terpupuk terlebih dahulu.
Literasi dan Karakter Bangsa
Namun sesungguhnya, kita kaya akan karya-karya literasi. Tengoklah karya-karya klasik seperti Serat CenthiniSerat GatolocoWawacan Syeh Abdul Qadir Jaelani, Wawacan Panji Wulung,  Martabat Tujuh, Syams al Maarif, Buku Kitab Siksa Kandang KaresianSwaka DharmaKitab-kitab Pengobatan dan sederet karya-karya klasik lainnya. Begitu pula pada generasi selanjutnya, sejumlah karya-karya Hamka, Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, Tan Malaka, Soekarno, Bung Hatta, Sutan Takdir Alisyahbana, Achadiat K, Muchtar Lubis, Putu Wijaya dan sejumlah penulis kontemporer berkontribusi atas tegaknya dunia literasi kita.
Dari karya-karya itu, sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari. Seperti pada Kitab Siksa Kandang Karesian dan Swaka Dharma  yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Sunda pada jaman Pajajaran. Mengutip pernyataan Tedi Permadi (Pikiran Rakyat, 3/8/2008) kedua teks itu bercerita tentang konsep pemerintahan Sunda, tatanan ekonomi, tatanan sosial, hukum, politik dan lain-lain.
Selain itu, ajaran tasawuf  juga termuat pada naskah Martabat TujuhSyams Al Maarif yang mengungkapkan ajaran ketauhidan dan ajaran martabat, yang menjelaskan wujud yang ada sebagai pancaran dari yang satu. (Mu’jizah, 2005) Lebih menarik lagi, ajaran ini dikritisi oleh Prawirataruna yang menulis Serat Gatholoc [versi Dahara]. Teks ini mencoba mengkritisi masyarakat Jawa yang latah terhadap ajaran asing (Islam dan Kristen). Dalam serat ini, diungkapkan bahwa hendaknya orang Jawa tidak meninggalkan dan melupakan leluhurnya. (Jacob Soemardjo; 2002)
Petualangan literasi kita tidak sampai di situ, banyak karya para penulis kita yang mencoba memotret perjuangan menuju kemerdekaan seperti pada novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Juga karya Filsafat seperti Madilog dan Aksi Massa karya Tan Malaka. Dilanjutkan dengan karya-karya yang mengkritisi budaya patriarkal seperti pada karya NH Dini, Oka Rusmini, dan Abidah El Khalieqy. Juga dengan karya-karya lain yang mencoba memotret situasi bangsa dari berbagai sisi, dari sisi yang paling gemerlap sampai sisi yang paling suram.
Karya literasi merupakan salah satu alat yang memotret karakter bangsa Indonesia lebih dekat. Dari mayarakat petani, pelaut, pedagang, peladang semua termuat di dalamnya. Ia juga menawarkan refleksi atas kebobrokan yang selama ini diidap bangsa ini. Tentunya ini sumbangan besar atas terbentuknya masyarakat Indonesia yang lebih baik. Kita mempelajari rangkaian jejak-jejak masa lalu leluhur dan mempelajari kesalahan masa lampau serta membuat pembaharuan di masa depan. Ini sebuah kekayaan intelektual yang tak ternilai harganya.
Menakar Budaya Literasi Kita
Penulis tertarik dengan pernyataan Elizabeth Inadiak, seorang penerjemah Prancis yang mengatakan bahwa Serat Centhini memiliki muatan nilai kemanusiaan yang dahsyat, nilai perdamaian, dan spirtual. Nilai-nilai yang sama diungkap juga oleh Victor Hugo. Pernyataan ini membuat saya merasa gelisah. Apa mungkin selama ini kita abai dengan teks-teks yang sebenarnya menyimpan khazanah keilmuan yang begitu elok?
Perasaan yang sama ketika beberapa tahun lalu, penulis membaca karya seorang sarjana Jepang, Mikihiro Moriyama yang bersusah payah untuk tinggal di daerah Jawa Barat hanya demi meneliti sastra Sunda jaman kolonial. Begitu pula dengan Nancy Florida, dan banyak peneliti asing yang asyik masyuk melakukan riset atas teks-teks kuno di Indonesia penulis merasa malu karena mereka lebih tertarik untuk mengenal tradisi Indonesia dibandingkan warganya sendiri.
Ini semua menandakan bahwa negara kita ini memiliki tradisi literasi yang cukup kuat. Meskipun,  kesadaran ini tidak cukup baik dipahami oleh masyarakat, terlebih oleh pihak yang berkewajiban melestariakannya. Penulis merasa miris ketika naskah kuno kita hilang. Kabar terbaru mengatakan naskah-naskah di museum Radya Pustaka hilang. Bahkan menurut sebuah reportase, tahun 2002, 2 truk naskah yang berasal dari Madura diborong Malaysia dan Brunei. Fakta teranyar, tahun 2008, 500 naskah kuno dan benda pusaka dari Cirebon terancam dijual kepada Malaysia. (Pikiran Rakyat, 28/8/2008)
Setelah kekayaan alam seperti minyak bumi dan emas digondol ke luar negeri, apakah kita masih rela naskah-naskah diambil juga?
Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa bangsa kita digdaya dalam dunia literasi, namun sedikit saja yang menyadari dan mau berupaya melakukan perbaikan. Mungkin kita perlu meniru aksi penyelamatan naskah kuno yang dilakukan Yayasan Sastra Surakarta terhadap 6.000 naskah kuno yang bertuliskan huruf Jawa (Kompas, 27 Mei 2009). Tidak hanya penyelamatan, tentu kita juga perlu memelihara demi keberlangsungan dunia literasi di Indonesia. Semoga. (sumber Neneng Nurjanah [Penikmat seni dan kebudayaan, bergiat di PSIK Indonesia] psikindonesia.org/menakar-kedigdayaan-budaya-literasi-kita/




Kepala Sedang Memberika Sambutan